Jejak Bahari Mandar di Kampung Pambusuang

http://www.arytasman.comKampung ini terletak dipantai teluk mandar. jangan bayangkan disana terdapat sisa kerajaan besar, seperti istana raja atau benteng lengkap dengan meriam seperti di Makassar (kerajaan Gowa-Tallo).

Sebagaimana disebut sebelumnya, sifat bahari mandar bukan tertumpu pada kemegahan melainkan kesahajaan. oleh karena itu, jejak kebudayaan bahari mandar dikampung ini terlihat pada gaya hidup sehari-hari warga kampung pambususang.

Kampung ini terletak 300 km di sebelah utara Makassar, kira-kira sejauh Yogyakarta ke surabaya. semula kampung pambusuang berupa kampung yang luas (kira-kira 10 Km Persegi).

Sejak dasawarsa 1970-an, pemerintah membagi kampung ini menjadi empat desa, yaitu bala, pambusuang, sabang subik,dan galung tulu.

Kendati demikian, penduduk empat desa tetap menganggap mereka satu kampung dan menciptakan istilah sappambusuangang yang artinya satu pambusuang. istilah itu kini lazim dipakai untuk menyebut empat desa itu sebagai satu kesatuan.

Dihadapan kampung ini terbentang teluk Mandar, bagian selat Makassar yang merupakan bagian Garis Wallace. Warna laut yang biru gelap kontras dengan tanah perbukitan yang berwarna cerah. laut di hadapan kampung Pambusuang tergolong laut dalam, artinya sewaktu air laut surut, jarak antara pantai yang dangkal (batas paparan benua) dengan laut dalam tinggal beberapa puluh meter saja.

Jika kedalaman laut dipantai pulau jawa rata-rata 40 meter, maka dasar laut dikampung pambusuang bisa langsung mencapai ratusan meter. Di kawasan pantai ini terdapat terumbu karang dan padang lamun. ukurannya paling banter selebar jalan dengan panjang dua kilometer. Sebagian besar terumbu karang dan padang lamun sudah rusak binasa.

Tanah di sekitar kampung pambusuang berbukit-bukit dan relatif gundul. jutaan tahun yang silam, bukit itu terangkat dari dasar laut akibat proses tektonik. Tak heran jika sekarang di perbukitan itu banyak ditemui cangkang kerang dan batu karang. Dalam kondisi tanah semacam itu, wajarlah jika penduduk di kawasan kampung pambususang lebih memilih menangkap ikan dari pada bertani.

Dipantai kampung pambusuang kita bisa menjumpai jemuran ikan disana-sini. sampah juga bercecaran di mana-mana, sesekali kita bisa memergoki orang buang hajat di pantai. inilah pemandangan sehari-hari dikampung pambusuang, yang tidak jauh berbeda dengan kampung nelayan lain di Indonesia.

Tapi barisan perahu yang parkir dikampung pambusuang barang kali berbeda dengan kampung nelayan lain di Indonesia. semua haluan perahu sengaja diarahkan kelaut. penempatan perahu ini berkaitan dengan kepercayaan nelayan bahwa mereka harus selalu siap melaut.

Dibelakang jajaran perahu itu tampak deretan rumah panggung yang terbuat dari kayu. seng atao rumah umumnya berkarat. dinding rumah biasanya disusun dari papan, sementara bangunan dapur tampak berbeda karena beratapkan rumbia atau jendelanya tampak panci yang digantung.

Pada kolong rumah setinggi dua meter berjajar bilah-bilah bambu sebagai pagar. tepat disamping rumah ada cadik dan katir yang tidak digunakan, digantung bersama tali-temali rotan putih yang sudah memudar warnanya.

Arsitektur rumah mereka khas sebagaimana jajaran perahunya. dari bawah ke atas, bagian rumah merka terbagi tiga. bagian atas adalah ruang di bawah atap yang pernah menjadi tempat penyimpanan pangan. bagian tengah berfungsi sebagai tempat tinggal dan menjadi tempat utama kegiatan ritual, termaksud ritual yang berkaitan dengan kegiatan melaut atau pembuatan perahu. adapun bagian bawah menjadi ruang kerja.

Pekerjaan yang biasanya dilakukan dibawah adalah menenun sarung sutera mencuci dan menggarami ikan. pada siang hari kolong rumah biasanya dipakai sebagai tempat berangin-angin menghindari panas di dalam rumah.