Suku Primitif di Pulau Jawa

Jawa adalah salah satu bagian dari Negara Indonesia yang memiliki penduduk kurang lebih 136 juta. Mungkin saja Anda baru tahu jika jawa merupakan pulau yang memiliki penduduk terbanyak di dunia serta salah satu wilayah terpada di dunia. Jawa dihuni oleh 60% penduduk Indonesia. Ibu kota Indonesia, Jakarta, terletak di Jawa bagian barat. Banyak sejarah Indonesia berlangsung di pulau ini.

suku-primitif-di-pulau-jawaMengenai pembahasan kita pada kesempatan ini, yaitu suku primitif di pulau jawa. Jawa tentu memiliki suku primitif. Menurut penulusuran suku primitif di jawa dikenal dengan nama suku Setemon. Sebenarnya suku ini telah ada berpuluh-puluh tahun yang lalu keberadaannya. ini adalah suku primitif terakhir di jawa. mereka hidup disekitar daerah Kebonsari Madiun selatan.

Suku primitif Setemon memiliki berbagai keunikan, keanehan dan ciri khas tersendiri. Sampai sekarang mungkin saja suku ini masih ada di jawa jika Anda membandingkan dengan orang jawa asli, mereka sangat mudah untuk dibedakan dengan kasat mata.

Ada yang mengatakan suku Setemon masih keturunan dari bangsa anoman, anilo, subali, dan sugriwo. Atau bisa disebut dengan keturunan dari Pythecantrhopus erectus, jadi suku ini dinamakan Homo setemonensis. Setelah dilakukan penelitian bertahun-tahun, ternyata mereka memang bukan termasuk suku jawa asli. terdapat banyak perbedaan mulai dari pergaulan, pola makan, cara berpakaian, dan mereka selalu hidup bergerombol.

Sebagai tambahan dan pembelajaran saja ada juga suku lain di pulau jawa yaitu suku Kalang namun banyak pendapat yang berbeda-beda tetang keasilian dari suku ini berikut pendapat para pakar mengenai suku Kalang.

Suku Kalang adalah sebuah kelompok masyarakat yang berdiam di seputar Jawa Tengah dan Jawa Timur yang keberadaannya kini entah ada dimana. Secara mitos, mereka dianggap suku yang aneh sekaligus misterius. Dalam sebuah artikel, saya pernah membaca bahwa mereka sebenarnya bukan suku Jawa, tetapi pendatang dari India pelosok yang masih terbelakang alias primitif.

Kedatangan mereka ke bumi nusantara dibawa oleh saudagar-saudagar India sebagai pengawal sekaligus kuli angkut barang. Ini karena diyakini, Suku Kalang memiliki tenaga aneh dan sejumlah kemampuan di luar akal sehat. Namun karena terbelakang dan tidak berpendidikan, Suku Kalang mudah dibodohi atau diperintah layaknya budak. Pendapat ini dikemukan oleh PJ Veth yang menulis buku “Java”.

Soemarsaid Moertono menentang pendapat ini dalam bukunya “Negara dan Usah Bina Negara di Jawa Masa Lampau” . Soemarsaid memberikan pendapat bahwa Suku Kalang adalah suku primitif yang ada di Jawa keturunan Pra-Dravidia atau Porto Melayu yang hanya bisa hidup di hutan secara berpindah-pindah.

Meski hampir sama, namun pendapat ini berbeda dengan Robert-Read dalam buku “Penjelajah Bahari, Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika”, terbitan Mizan. Pelaut Indonesia diindikasikan pernah berada di India Selatan saat era pra-Dravidia 500 tahun sebelum masehi. Jika dihubung-hubungkan ketiga pendapat tersebut, bisa jadi Suku Kalang sebenarnya adalah orang Indonesia yang melaut hingga India namun nasib yang membawa mereka kembali ke nusantara menjadi budak.

Pendapat ekstrim diutarakan oleh Mitsuo Nakamura (1983), seorang Antropolog Jepang yang menyebut suku Kalang adalah keturunan anjing atau kera. Ini karena sebagai manusia mereka justru memiliki ekor meski pendek. Penyebutan Kalang diidentifikasi lebih halus oleh Gericke Roorda bahwa Kalang artinya ” di luar “, masyarakat yang berada di luar kebiasaan manusia biasa.

Berbagai pendapat negatif muncul tentang suku Kalang karena sejumlah perilakunya dianggap menyimpang. Namun yang paling postif mereka sangat ulet dan pekerja keras tanpa mengenal lelah. Akibat gunjingan kurang baik ini Suku Kalang dahulu sering menyembunyikan identitas dirinya kepada masyarakat umum.

Demikian apa yang bisa kami berikan jika Anda mendaptkan sumber lain tentang suku primitif di pulau Jawa kami harap Anda dapat memberikan sedikit masukan melalui kolom komentar pada artikel ini. Semoga bermanfaat.