Religi Suku Murba

http://www.arytasman.comSuku Murba adalah suku-suku bangsa yang sekalipun hidup dalam abad sekarang ini, namun masih berperadaban zaman purba.

Pada mulanya, dalam ilmu pengetahuan, religi suku murba disebut “religi bersahaja atau religi primitif”. Disebut demikian karena:

1. Ada prasangka bahwa suku-suku bangsa yang masih bersahaja itu secara kebudayaan dan keagamaan menunjukkan suatu kesatuan. Dibelakang bentuk religi yang bermacam-macam diperkirakan ada gagasan yang sama, sehingga religi yang banyak itu disebut religi bersahaja. Namun, prasangka seperti itu sebenarnya salah. Ada beberapa gagasan yang dapat disamakan, namun pada umumnya para ahlisudah mengaku, bahwa sama sekali tidak ada kesatuan di antara keyakinan-keyakinan suku bangsa yang bermacam-macam itu. Umpamanya, keyakinan suku-suku bangsa di australia sangat berbeda dengan keyakinan suku-suku bangsa di Indonesia.

2. Ada anggapan bahwa religi umat manusia mengalami suatu evolusi atau perkembangan, yaitu dari bentuk yang terendah ke bentuk yang tertinggi. Anggapan ini dipengaruhi oleh gagasan charles darwin tentang evolusi. Menurut keyakinan para ahli, abad ke-19 religi manusia yang berkembang, dari bentuk yang terendah kebentuk tertinggi, tampak dalam agama kristen. Religi terendah itu adalah religi asali, yang disebut religi bersahaja atau religi primitif. Sebutan ini digunakan untuk membedakan antara religi yang masih dianut suku-suku bangsa yang bersahaja dan religi yang dianut oleh bangsa-bangsa yang sudah modern.

Keyakinan seperti itu sekarang sudah ditinggalkan oleh para ahli. Hal ini disebabkan karena orang sudah semakin yakin bahwa perkembangan religi seperti yang dimaksud tadi sebenarnya tidak ada. Ternyata ditengah-tengah bangsa yang disebut modern itu masih ada juga keyakinan-keyakinan seperti yang terdapat ditengah-tengah bangsa yang disebut bersahaja atau primitif. Umpamanya bangsa barat masih memakai maskot (semacam jimat) pada mobilnya, dalam bentuk boneka atau perwujudan lainnya.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tadi, kami tidak memakai istilah “religi bersahaja”, tetapi religi suku murba”. Hal ini disebabkan keyakinan-keyakinan dalam religi ini masih terdapat pada suku-suku bangsa, yang sampai zaman modern ini masih hidup dalam alam pemikiran zaman purba.