Tingkatan Jabatan Dalam Tradisi Nelayan Mandar di Pambusuang

http://www.arytasman.comSosok Nelayan Mandar di Kampung Pambusuang mudah dibedakan dari orang-orang yang sehari-hari bekerja di darat. Kulit mereka rata-rata gelap kecoklatan. Perawakannya kekar, terutama pada bagian dada dan lengan, menyempit di bagian pinggang ke bawah,  jari-jemari mereka umumnya kelihatan lebih kekar daripada pekerja dibidang lain.

Tinggi tubuh mereka tidak jauh berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya, yakni sekitar 165 cm.

Nelayan bangkotan biasanya sudah berusia baya. Mereka bisa dikenali dari pakaian yang dikenakan sebelum melaut atau ketika sedang dalam perjalanan, yakni mengenakan sarung dan songkok hitam mirip pakaian orang yang hendak sholat. Pakaian ini termasuk paling sopan bagi lelaki Mandar.

Dalam kebudayaan Mandar, nelayan atau pelaut disebut posasi. Sebutan itu masih bersifat umum untuk mereka yang mencari rezeki di laut. Masih ada sebutan lain yang berhubungan dengan proses penangkapan ikan atau jenis perahu.

Posasi yang menggunakan perahu sande disebut pasande. Nelayan yang menangkap ikan di roppong disebut parroppong atau ketika dia menggunakan alat tangkap gae (pukat cincin) dia disebut pa’gae.

Nelayan yang menangkap ikan terbang (motangnga) disebut potangnga. Parroppong dan potangga bisa bekerja dengan perahu jenis apapun, tidak harus memakai perahu sande. boleh dikata, seorang posasi dapat mempunyai beberapa sebutan tergantung pada pekerjaan yang ditekuninya.

Dikalangan nelayan Mandar masih ada sebutan sesuai pengetahuan atau tanggung jawab diperahu yakni punggawa posasi (nakhoda perahu) dan sawi (anak buah perahu).

Kita sebaiknya mengetahui dengan persis siapa punggawa posasi dan siapa sawi sebelum berlayar bersama mereka supaya tidak ada masalah dalam berkomunikasi.

Apabila hendak ikut melaut, sebaiknya kita menghubungi punggawa posasi, bukannya sawi. sebenarnya masih ada pemegang wewenang lebih tinggi di atas punggawa posasi, yaitu punggawa pottana (juragan darat), tetapi untuk urusan di laut punggawa posasilah yang paling bertanggung jawab.

Antara sawi dengan punggawa biasanya masih sekerabat karena demikianlah dasar untuk merekrut pegawai baru.

Seorang punggawa pottana sebisa mungkin mengambil punggawa posasi dari kerabatnya sendiri. Setali tiga uang dengan punggawa posasi ketika merekrut sawi.

Ada dua alasan mereka untuk mempertahankan sistem perekrutan seperti itu.

Pertama, hubungan kekerabatan dianggap sebagai landasan yang kuat untuk membina hubungan kerja.

Kedua, mempekerjakan sanak-saudara dianggap sebagai upaya untuk membantu perekonomian mereka.

Singkatnya, supaya uang tidak lari keluar keluarga, maka ada kecenderungan membawa anak-anaknya sendiri. sekiranya tidak ada kerabat yang bisa direkrut, mereka akan menawarkan posisi kepada tetangga (orang diluar keluarga).

Bagi orang yang tinggal dikota “tetangga” hampir dipastikan orang lain yang bukan sanak keluarga. Tetapi dikampung Pambusuang penghuni rumah dibagian depan atau samping belum tentu orang diluar sanak keluarga mereka.

Di sana tetangga terdekat biasanya keluarga mereka sendiri sampai tingkat tertentu. Oleh karena itu, sawi, punggawa posasi, punggawa pottana, penjual ikan, pande lopi (tukang perahu), sampai sando (dukun), sering tinggal disatu kawasan dan masih kerabat.

Kendati demikian, kami tidak, atau setidaknya belum, memergoki kecenderungan tumbuhnya pemukiman eksklusif untuk puak tertentu saja di Kampung Pambusuang.