Mengenal Budaya Maritim dalam Kesahajaan Teknologi Perikanan Nelayan Mandar

http://www.arytasman.comSebagaimana sudah disebut pada postingan sebelumnya, Kampung Pambusuang terbagi atas empat desa (Bala, Pambusuang, Sabang Subik, dan Galung Tulu atau Kampung Tulu). Selain berbeda dalam urusan administrasi, ada juga perbedaan pada tradisi perikanan pada masing-masing desa.

Nelayan didesa Bala sebagian besar menangkap ikan karang di dangkalan Kalimantan dengan perahu bermesin, sementara didesa lain hanya sebagian kecil nelayan yang melakukan hal yang sama.

 Adapun desa Sabang Subik terkenal dengan Roppong yang menjadi andalan armada Gae mereka. Nelayan di desa Pambusuang umumnya masih menggunakan Sande, jenis perahu yang sudah jarang digunakan didesa lain.

Ada pun nelayan di Galung Tulu masih banyak yang mengandalkan perahu Ba’go, jenis perahu ini tidak saja langka untuk kampung Pambusuang, melainkan juga untuk kawasan Mandar selebihnya.

Keragaman pola perikanan antar desa ini baru terjadi pada dasawarsa 1990-an. Sebelum masa itu, kegiatan perikanan di sepanjang pesisir kampung Pambusuang hampir seragam. Rata- rata nelayan disemua desa memakai Sande dan Ba’go, Selazim pemakaian Roppang dan jala (jaring payang).

Keragaman pola perikanan itu memperlihatkan bahwa tradisi maritim Mandar di kampung Pambusuang cepat berubah untuk menanggapi perubahan lingkungannya.

 Dikampung lain memang ada nelayan memakai perahu Sande, jebakan roppong, memburu ikan terbang. Tapi perubahan itu menjadi perkara lain bila terjadi dikampung Pambusuang yang boleh disebut sebagai pusat kebudayaan bahari Mandar.

Menurut penduduk setempat, disinilah tempat perahu Sande dilahirkan, roppong pernah menjadi penangkap ikan yang paling banyak digunakan, tempat tradisi motangnga bertahan cukup lama, dan jumlah isteri nelayan penenun sarung sutera terbanyak dikawasan Mandar. Kampung ini juga pernah menjadi pusat Dakwah Islam dikawasan Mandar. Para pemuka agama kemudian menempati posisi penting dalam mistik dan proses ritual nelayan Mandar.

Jejak pusat dakwah di kampung ini bisa ditelusuri pada kehadiran pondok pengajian yang mempelajari kitab kuning. Kegiatan seperti ini jarang ada dikampung lain didaerah Mandar.

Ditempat kelahirannya ini, peran perahu Sande yang bertenaga angin dan ramah lingkungan perlahan-lahan digeser dengan perahu bertenaga fosil yang meninggalkan polusi. Sejak perahu bermesin dipakai, merosot pula tuntutan seorang Punggawa Posasi untuk terampil membaca gelagat alam dilautan.

Ancaman alam lebih ringan dipikul dengan tekhnologi perahu bermesin dari pada perahu layar. Nelayan juga kini tidak perlu lagi terlampau mengandalkan keselamatan mereka pada doa, mantra, dan simbol-simbol tradisional.

Oleh karena itu, kini semakin sulit membedakan sosok punggawa dengan posisi sosial lain karena pengetahuan di kalangan nelayan nyaris merata. Kalaupun masih ada punggawa yang kaya pengetahuan mistik dan mahir membaca gelagat lautan, toh masyarakat tidak terlampau memerlukannya lagi.

Bagi sebagian kalangan, perubahan ini mungkin dianggap seagai pertanda merosotnya kebudayaan bahari Mandar. Dulu kami mengagumi para posasi masa lampau karena daya jelajah dan pengetahuan mereka yang mengagumkan pada masanya.

Dengan perahu kayu bertenaga angin dan berpadu bintang di langit mereka mengarungi jarak ribuan kilometer, dari Maluku sampai Singapura; dari Flores sampai Sulu.

Tetapi apa yang kami kagumi ternyata cuma permukaan kebudayaan bahari Mandar. Setelah menyaksikan keragaman teknologi perikanan dikampung Pambusuang yang muncul hanya dalam tempo sepuluh tahun, jelaslah bahwa keunggulan bahari Mandar terletak pada kemampuan mereka beradaptasi dengan cepat untuk menanggapi perubahan lingkungan.

Jelas-jelas tidak ekonomis bila mereka bertahan dengan perahu sande yang terbatas daya jelajah dan kapasitas tangkapnya melawan perahu bermesin.

Aneh juga misalnya, jika menganjurkan mereka bertahan dengan garam untuk mengawetkan ikan seperti leluhur mereka padahal ongkos produksi bisa lebih murah dan lebih baik dengan es batu. Hanya dengan Rp200, mereka sudah bisa mendapatkan es yang beratnya sekitar satu kologram untuk mengawetkan ikan lebih banyak.

Posasi menggunakan perahu bercadik, demikian juga suku Vezo di Madagaskar. Mereka Punya ritual dan mistik, demikian juga masyarakat Vesayang di Filipina dan Pelaut Antwerpen, Belgia. Mereka Menangkap Ikan terbang demikian juga nelayan yami di Taiwan.

Walaupun demikian, Kebudayaan Bahari Mandar mempunyai ciri tersendiri yang mencerminkan ketangguhan tradisi adaptasi mereka terhadap perubahan.

Semula perahu Sande, yang dianggap jenis perahu bercadik paling canggih dan paling cepat dikawasan Austronesia, menggeser pemakaian perahu Pakur di Mandar yang banyak dipakai pada dasawarsa 1930 an.

Pada awal abad ke-21 perahu Sande mungkin akan bernasib sama dengan Pakur. Apapun jenis perahunya, entah Sande‘, Pakur, atau mungkin perahu khas Mandar di masa depan, semua itu hanya hasil daya cipta nelayan Mandar untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan.